Senin, 21 Januari 2019

4 Gereja Berdesain Minimalis di Dunia

Konsep minimalis menjadi tren yang diaplikasikan pada bangunan-bangunan di seluruh dunia di era milenium ini. Konsep yang menyampaikan pesan kesederhanaan tersebut muncul dikarenakan filosofi budaya Zen dari Jepang yang menyoroti ide kebebasan dan esensi hidup pada suatu bangunan. Ciri-ciri utama dari konsep minimalis adalah bentuk-bentuk dasar geometris, meminimalkan hiasan, penggunaan bahan-bahan sederhana dan pencahayaan yang alami.

Kepopuleran konsep minimalis dalam desain interior dan eksterior sebuah bangunan terlihat dari penggunaannya pada seluruh jenis bangunan. Baik desain interior dan eksterior dari konsep minimalis tidak hanya diaplikasikan pada rumah atau apartemen dijual, beberapa hotel, restoran pun dibuat menggunakan konsep ini. Pemakaian konsep minimalis di tempat-tempat umum yang fungsional juga merebak ke bangunan-bangunan tempat beribadah, Gereja misalnya.

Beberapa gereja besar maupun tempat peribadatan gereja kecil atau Kapel di dunia ini diketahui menggunakan konsep minimalis untuk mengeluarkan pesan tempat peribadatan dengan nuansa yang sederhana namun menekankan ke-khidmat-an.

Agri Chapel

Foto:Yousuke Harigane


Kapel minimalis yang disebut memiliki gaya 'new gothic' ini dibangun di prefektur Nagasaki, Jepang. Kapel yang dibuat tanpa tembok itu memperlihatkan area terbuka yang sangat luas dari seluruh penjuru mata angin serta area taman nasional yang hijau.

Pada penataan kapel, bangunan tersebut menggabungkan nuansa warna putih dengan langit-langit dari balok-balok kayu cedar. Kayu cedar pada langit-langit juga digunakan pada furnitur tempat duduk untuk para jemaat.

Kamppi Chapel

Foto: Tuomas Uusheimo


Berlokasi sangat berdekatan dengan Narinkka Square di ibukota Finlandia, Helsinki, kapel yang disebut sebagai 'Chapel of Silence' atau kapel kesunyian ini menggunakan struktur dominan kayu pada interiornya. Kapel berbentuk kacang almond dengan luasan 352 m2, memiliki area langit-langit yang disuplai dengan pencahayaan alami dari matahari. Luasan area yang sangat minim ditujukan untuk memunculkan nuansa ketenangan dalam aktivitas ibadah yang khidmat di tengah-tengah ibukota Helsinki yang padat dengan aktivitas masyarakat.

Sunset Chapel

Foto: Jaime Navarro


Dibangun di atas ketinggian 16 kaki dari permukaan tanah dataran tinggi Acapulco, Meksiko, struktur pembuatan kapel didominasi oleh cor semen yang dibuat menyerupai tekstur batu dibagian luarnya. Bagian dinding dibuat seperti jeruji besi penjara dari semen tanpa kaca agar udara dan sinar matahari masuk ke dalam . Altar yang dikombinasikan dari cor dan kaca bening berbentuk salib diposisikan sejajar dengan arah matahari terbenam di belakangnya.

Church of Light


Foto: Flickr


Dinamakan Gereja Cahaya atau Church of Light, gereja ini dibangun di kota Ibaraki, Osaka, Jepang pada 1989. Memiliki luas bangunan 113 m2 atau setara dengan rumah kecil, gereja tersebut terdiiri atas tiga kubus beton bertulang dengan masing-masing tingginya mencapai 17,7 meter dengan tebal 15 inchi. Sebuah salib terbentuk dari dinding beton di belakang altar yang dilubangi. Beradanya altar yang menghadap ke timur, menimbulkan efek cahaya masuk ke dalam gereja dari salib tersebut pada pagi hari.

Arsiteknya Tadao Ando, menggunakan filosofi Zen pada konsep arsitektur gereja cahaya. Kombinasi antara warna gelap dari beton dan warna terang dari cahaya yang masuk lewat salib dimaksudkan untuk menghadirkan sisi spiritualisme dan sisi keduniawian pada jemaat yang hadir.

0 komentar:

Posting Komentar