Kamis, 11 Juli 2019

Kisah Mbah Sadiyo, Pemulung Penambal Jalan yang Inspiratif


Kebanyakan orang hanya mengeluh dan mengeluh. Jarang ada pengorbanan dan kegigihan untuk mengatasi persoalan bersama, apalagi jadi sukarelawan. Hanya segelintir orang seperti Mbah Sadiyo salah satunya. Beliau yang pekerjaan sehari-harinya sebagai pemulung rela menambal lubang di jalan raya secara sukarela. Meskipun tidak dibayar, tekadnya adalah membantu.

Sosok Mbah Sadiyo
Beberapa waktu lalu, pengorbanan seorang kakek penambal jalan menjadi viral. Sosok tersebut adalah Mbah Sadiyo yang merupakan warga Gondang, Sragen, Jawa Tengah. Beliau adalah seorang pemulung yang berhati mulia. Bagaimana tidak, beliau rela menambal lubang di jalan raya yang tergolong ramai dilewati orang.

Meskipun seorang pemulung, inspirasinya dalam menyelesaikan persoalan umum patut diacungi jempol. Tanpa bantuan siapapun, beliau rela menyisihkan dananya untuk membeli peralatan dan bahan penambal jalan raya tersebut. Beliau terus melanjutkan niatnya menambal jalan demi keselamatan para pengguna jalan sampai ke tempat tujuan mereka masing-masing.

Kakek yang sangat teladan ini bernama lengkap Sadiyo Cipto Wiyono dan sudah berusia 65 tahun. Beliau berhasil membuktikan bahwa usia tidak menjadi penghalang seseorang untuk bertindak membawa perubahan.

Untuk keselamatan banyak orang, beliau rela berkorban dan berjuang sendiri menambal jalan. Meskipun seorang pemulung, kakek berhati mulia ini berela hati mengeluarkan dana dan tenaga. Sungguh sosok yang perlu diteladani.

Peristiwa yang Menggerakkan Hatinya
Awalnya tidak banyak yang tahu, niat Mbah Sadiyo tersebut dilatarbelakangi sebuah peristiwa. Pada tahun 2012, beliau pernah terjatuh akibat jalan berlubang. Kala itu, beliau terjatuh dari becak yang dikendarainya untuk memulung. Peristiwa tersebut membuatnya sedih dan prihatin mengenai keadaan tersebut. Beliau juga terpaksa mengeluarkan biaya untuk memperbaiki becaknya.

Peristiwa pilu itu membuatnya terdorong memperbaiki situasi. Tindakannya yang sukarela ini sangat menyentuh hati karena rela terjun lebih dulu untuk memperbaiki sarana umum agar tak ada yang celaka lagi seperti yang pernah dialaminya. Alih-alih protes kepada pemerintah, keprihatinan diwujudkannya dengan tindakan perbaikan sukarela.

Jalan yang berlubang memang harus ditambal agar kembali mulus dan lancar ketika dilewati semua orang. Tidak akan ada yang celaka ketika melewati salah satu ruas jalan raya di Kabupaten Sragen tersebut.

Mbah Sadiyo mengupayakan perbaikan jalan atas inisiatifnya sendiri. Meskipun usianya sudah berkepala 6, beliau rela mengusahakan dana untuk perbaikan jalan juga tenaganya untuk melaksanakan upaya perbaikan jalan tersebut. beliau membeli pasir dan semen untuk menambal jalan yang rusak. Semua hal tersebut sudah diupayakannya.

Saat menambal jalan yang berlubang tersebut, Mbah Sadiyo mendapatkan banyak kritik dan pujian. Keduanya mewarnai perjuangan sukarelanya. Ada juga pengguna jalan yang memberinya makan dan minum untuk menghilangkan lapar dan dahaga setelah menambal jalan. Hal ini sangat membantu Mbah Sadiyo.

Pada akhirnya, tindakannya ini mampu menggerakkan pemerintah Kabupaten Sragen untuk mengerahkan bantuan penambalan jalan lain di Sragen yang mengalami kerusakan. Upaya Mbah Sadiyo ini patut diapresiasi karena bisa memulai kesadaran peduli lingkungan sekaligus keselamatan para pengguna jalan.

Terkait dengan upayanya tersebut, penghargaan layak diperoleh Mbah Sadiyo. Asuransi wakaf dapat membantunya mewujudkan perubahan lain dengan mengajak lebih banyak pihak untuk terjun ke dalamnya. Semakin banyak yang melakukan pergerakan, tentunya bisa lebih banyak bermanfaat untuk orang lain.

Asuransi wakaf Allianz dapat membantu memberikan dana untuk merealisasikan perubahan. perbaikan sarana publik sangat penting untuk kemaslahatan bersama. Seperti halnya tindakan Mbah Sadiyo yang memperbaiki jalan raya yang rusak dan sudah banyak berlubang. Selain kenyamanan berkendara, perbaikan jalan tentu menyelamatkan banyak nyawa.

0 komentar:

Posting Komentar